.:: AKTours ::. Keindahan Pulau Komodo yang Magis

Telp./WA. 0816 8696 86

Keindahan Pulau Komodo yang Magis

Kawasan Indonesia Timur terkenal akan keindahan alamnya yang memikat, bahkan terdapat banyak keajaiban di sana. Magis dan membius siapa saja yang datang. Labuan Bajo dan Kepulauan Komodo jadi paket komplet untuk menyelami keindahan ciptaan Tuhan. Sejak keberadaannya mulai terekspos, Labuan Bajo dan Kepulauan Komodo mulai menarik minat tidak hanya wisatawan lokal, namun juga wisatawan asing. Gaung keindahannya mulai jadi pembicaraan banyak orang terlebih dibantu media sosial yang semakin membuktikannya. Maka hingga saat ini makin banyak spot wisata yang dikembangkan sehingga makin banyak pengunjung yang penasaran akan pengalaman apa saja yang bisa di dapat selama berkunjung ke Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Terdiri dari banyak pulau, maka live on board (LOB) atau tinggal di kapal menjadi model traveling yang bisa dicoba untuk menikmati secara dekat keindahan dan kearifan lokal di tanah timur Indonesia ini. Hal ini pun yang saya pilih, menjajal kehidupan ala-ala nelayan dengan tinggal selama 3 hari 2 malam di atas kapal. Perjalanan pun dimulai, sauh diangkat dan kapal mulai berlayar di bawah komando sang Nahkoda. Memulai perjalanan maka gugusan bukit-bukit berwarna keemasan khas tanah timur di musim kemarau mulai menunjukkan pesonanya. Nyala bebukitan yang keemasan kontras dengan air hijau biru lautan luas laksana lukisan alam yang hidup. Wooww pemandangan yang baru pertama kali saya saksikan secara langsung, yang selama ini hanya bisa saya pandangi dari layar kotak di rumah. Pengalaman-pengalaman yang terasa ajaib pun saya peroleh selama 3 hari melaut. Semua destinasi memiliki pesona dan kenangannya tersendiri, ahh bagaimana mungkin saya lupa akan hal-hal berikut: Menikmati Sunrise dan Sunset di Gili Lawa Masih terasa jelas kehangatan sinar mentari yang menerpa bebukitan kering di gili lawa. Mendaki selama 30-60 menit menuju bukit Gili Lawa atau yang biasa disebut Gili Laba bisa dilakukan baik pada pagi hari untuk menikmati sunrise maupun pada sore hari untuk menikmati sunset. Berada di sebelah utara Pulau Komodo dan langsung berhadapan dengan Laut Flores serta terdiri dari banyak bukit memungkinkan kita untuk dapat menikmati sunrise dan sunset dari spot yang berbeda. Wah ajaib banget dong. Selain itu jangan kaget apabila terdapat gerombolan rusa yang sedang asik minum di tepi pantai. Awas jangan didekati mereka sensitif. Oh ya, satu hal yang harus diingat, jika berkunjung pada musim kemarau, maka untuk para traveler yang berlabuh dan menginap harus selalu hati-hati dengan api sekecil apapun. Agar tidak terjadi peristiwa kebakaran seperti yang belum lama ini menimpa Gili Lawa Darat. Karena kalau bukan kita yang menjaga siapa lagi coba? Menyaksikan Keindahan Pulau Kanawa Begitu memasuki kawasan Pulau Kanawa, maka kita akan langsung dibuat terkagum-kagum dengan keindahan panoramanya. Ah bagaimana tidak, air hijau tosca dengan latar bebukitan dan langit cerah tampak begitu indah. Ditambah baju pink saya yang gonjreng, membuat saya mengambil banyak foto untuk menyimpannya sebagai bukti saya pernah ke pulau yang sangat cantik ini. Bahkan tidak hanya luarnya, dunia bawah lautnya pun dipenuhi warna-warni ikan-ikan cantik yang berkeliaran. Tegangnya Saat Berjumpa Si Gagah Komodo Keajaiban lain dari menyusuri tanah timur Indonesia adalah bertemu hewan purba endemik yang hanya ada di Indonesia, apalagi kalau bukan Komodo. Beruntungnya begitu memasuki pintu gerbang Taman Nasioanal Komodo saya langsung melihat seekor komodo yang sedang berjalan gontai menuju pinggiran pantai. Antara kaget, takut dan tidak percaya. Rasa syukur saya ucapkan berkali-kali. Bersyukur karena bisa melihat komodo secara langsung dan bersyukur karena dilahirkan di tanah Indonesia tercinta. Kepulauan Komodo sendiri pernah dinominasikan sebagai salah satu keajaiban dunia. Dan saat ini, bersama dengan Pulau Rinca dan Pulau Padar, Pulau Komodo masuk dalam sebagai situs warisan Dunia UNESCO. Ya karena selain komodo sebagai iconnya, ada banyak flora dan fauna lain yang masih terjaga di pulau yang berada di ujung paling barat Nusa Tenggara Timur ini. Pantai Pink Setelah lelah dan panas-panasan trekking demi bertemu si gagah Komodo. Maka berendam di air yang dingin adalah pilihan yang tepat. Cobalah menceburkan diri di Pantai Pink, pantai yang hanya memakan waktu sekitar 30 menit dari Pulau Komodo. Percaya atau tidak meskipun cuaca panas terik, saya agak kedinginan setelah beberapa waktu snorkeling di Pantai Pink. Tadinya saya pikir mungkin saya sakit karena terlalu lelah, ternyata begitu saya tanyakan ke teman yang lain mereka pun sependapat dengan saya. Ya airnya memang agak dingin. Aneh tapi nyata. Mulai kedinginan, saya pun berjemur di atas floaties menikmati cerahnya hari dan menyaksikan terpaan matahari dan deburan ombak yang bermain di atas pantai yang berpasir pink. Ya berbeda dengan pantai yang kebanyakan berpasir putih atau hitam, maka nuansa pink akan terasa sekali di pasir Pantai Pink ini. Wajar sekali jika dinamakan Pantai Pink. Pantai Pink sendiri hanya ada 7 di dunia, dan hebatnya kita dapat menyaksikannya di Indonesia. Warna merah muda itu sendiri terjadi karena cangkang terumbu karang yang bernama Homotrema rubrum yang berwarna pink. Apabila terumbu karang ini mati mereka akan terbawa air ke tepian pantai sehingga akan membentuk pantai dengan pasir berwarna merah muda. Trekking Melihat Eksotisme 3 Pulau Last but not least, berkunjung ke pulau yang masih ada dalam kawasan Pulau Komodo. Menjadi ikon yang katanya belum Bajo kalau belum ke Padar ya apalagi kalau bukan Pulau Padar. Menjadi primadona destinasi dan must visited ketika mengeksplor Bajo, maka tidak heran ada perbaikan sarana dan prasarana yang dilakukan di Pulau Padar. Sebut saja sudah dibangunnya tangga-tangga yang memudahkan pendakian, sehingga pengunjung dapat lebih santai menikmati setiap keindahan sisi pulau Padar. Selain itu ada landasan semen kasar, yang katanya di jadikan spot instagrammable untuk mendapatkan sisi foto yang merangkum kecantikan Pulau Padar. Saya sendiri begitu melihatnya agak heran, dan berpikir hal tersebut belum cukup perlu untuk dibangun karena tidak adanya landasan tersebut pun pasti tetep akan menghasilkan foto yang bagus. Tapi mungkin ada pertimbangan lain dari pihak pengelola, ya kalau masih dalam tahap wajar masih bisa saya terima. Ya selama masih memperhatikan dinamika alami dan kearifan lokal setempat. Demikian kisah perjalanan saya mengeksplor keajaiban yang ada di tanah Timur Indonesia ini. Semua hal yang indah pasti butuh perjuangan untuk mencapainya, demikian juga yang harus saya alami. Sailing dan hidup di kapal selama 3 hari ternyata bukan hal yang mudah. Terlebih ketika cuaca sedang tidak bersahabat maka gelombang tinggi akan menjadi musuh yang menyebalkan. Hal tersebut yang saya alami, tidak tahan dengan terpaan angin laut yang kencang dan dingin di bagian luar kapal, saya pun masuk ke kamar yang berada di dek bawah, bukannya membaik, saya justru semakin mual. Apa daya akhirnya saya dipaksa mengeluarkan semua isi perut saya. Sepertinya selain faktor cuaca, saya juga terlalu lelah sehingga masuk angin. Syukurnya saya selalu membawa sahabat setia di setiap perjalanan, tak lain tak bukan yaitu tolak angin. Racikan jamu tradisional yang pasti ampuh mengatasi masuk angin dan membuat badan pulih karena dibuat dengan bahan-bahan alami berkualitas. Dikemas secara modern sehingga praktis dibawa kemana-mana. Ya minum tolak angin tiap malam adalah rutinitas yang harus saya lakukan demi sebuah perjalanan menyaksikan keajaiban. sumber: traveldetikcom

Harga Jual Paket Wisata ke Delegasi IMF, dari Termurah sampai Termahal

Komentar Blog Keindahan Pulau Komodo yang Magis

Bank Pembayaran

Bank BCA No. Rek : 594 0347 779
an. Merlina Surjana
Bank Maybank No. Rek : 205 4000 175
an. PT. Andalan Kualanamu

Customer Service

DESTINASI

Bestseller

Twitter Feed